Posts from the ‘cerita’ Category

Padah permusuhan…

Nun,di sebuah hutan belantara tumbuhlah sebatang pohon yang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan jutaan pohon yang lainnya. Ia memiliki batang yang sangat lurus dan tegak, akarnya yang kukuh, serta aroma khasnya yang harum, semerbak, memenuhi seluruh isi hutan. Sehingga tidaklah menjadi hairan, ramai sekali para pencari kayu bakar yang merasa tertarik kepada pohon itu. Bahkan ramai yang berniat baik untuk turut memelihara keindahan pohon itu. Dengan senang hati mereka membiarkan pohon tersebut tetap tumbuh.

Sering kali mereka menyempatkan diri untuk menyiraminya dengan air yang diperoleh dari lubuk bening di pinggir hutan. Semua itu mereka lakukan dengan penuh harap agar suatu saat kelak, di alam yang mulai penuh dengan kerosakkan ini, Sang Pohon Cantik akan tumbuh dengan sejuta pesona. Memberikan warna perubahan bagi siapa saja, untuk lebih mencintai lingkungan mereka dan berhenti membuat kerosakan.

Sementara bagi para penebang pohon yang liar, keberadaan pohon cantik itu sangatlah mengganggu. Mereka sedar, apabila pohon tersebut tumbuh dengan baik, maka akan banyak perhatian yang akan tertuju kepada hutan itu. Perhatian yang tentu saja membuat langkah mereka semakin sulit dalam membuat kerosakan di dalam hutan itu. Para penebang pohon yang liar itu berikrar, mereka akan memindahkan pohon cantik itu ke halaman rumah-rumah mereka. Tetapi kalau tujuan itu tidak tercapai, maka mematikan pohon itu adalah cara terbaik yang harus mereka tempuh.

Beruntung, pohon cantik tersebut mendapat penjagaan yang sangat rapi dari para pencari kayu bakar yang baik hati. Mereka secara bergiliran mengiring berjalan dengan sangat waspada agar pertumbuhan Sang Pohon terjaga . Selain itu, pohon tersebut rupanya memiliki akar yang dapat menumbuh dengan cepat. Sehingga sari-sari makanan yang ada dalam tanah dapat diserap dengan baik. Demikian juga dengan air yang ada, dapat digunakan oleh Sang Pohon untuk menampung kehidupannya.

Dipendekkan cerita,pohon tersebut telah tumbuh besar, daunnya yang rimbun menghijau membuat mata tak lelah untuk memandang, dari dahan-dahannya lahir wangian semerbak harum yang menyeliputi seluruh hutan, dan satu lagi, pohon cantik tersebut memiliki buah yang sangat manis. Selain dapat menghilangkan dahaga, juga dapat mengenyangkan para penikmatnya. Terasalah berkah Sang Pencipta bagi para pencari kayu bakar, meskipun para penebang pohon yang liar masih saja mencari helah untuk selalu menghapuskan pohon itu.
Namun, demikianlah kudrat keberadaan setiap makhluk yang hidup dan tumbuh di atas muka bumi ini, tak satupun yang abadi! Tak terkecuali dengan keadaan pohon cantik yang disanjung para pencari kayu bakar dan seluruh penghuni hutan. Pada suatu petang, ketika langit mulai gelap, angin pun kencang berhembus. Pucuk pohon cantik bergoyang dengan hebatnya. Ia sekuat tenaga mengimbangi keadaan yang mana pada bila-bila masa boleh menumbangkannya. Sang Pucuk terus bergerak, awalnya hanya berniat untuk mempertahankan diri dari keadaan alam yang ia hadapi.

Tetapi lama-kelamaan ia sedar, bahwa sebenarnya ia dapat mengatasi sepenuhnya serangan angin tersebut. Ia yakin benar telah ditampung oleh akar yang kuat, dan dahan-dahan yang kukuh, serta dedaunan yang dapat menahan laju dan kencangnya angin dengan sempurna. Kerana keyakinannya itulah tiba-tiba ia membuat sebuah gerakan yang tidak disangka-sangka oleh Sang Akar, yang sekuat tenaga mencengkam tanah.

Sang Pucuk menari, bukan hanya mengikut arah angin, namun terkadang ia membuat gerakan yang membingungkan Sang Akar dalam mempertahankan keseimbangannya. Dan, Sang Akar pun mengeluarkan bantahannya; “Hai, pucuk. Berhentilah menari! Aku bingung melihatmu!” “Kenapa mesti bingung, Akar? Aku tahu benar situasi yang ada. Ikut sajalah!” “Bagaimana aku hendak mengikuti tarianmu, kalau kamu susah diikuti” “Percayalah, akar. Aku diatas mampu melihat semuanya. Bukan hanya batang, daun, dan kau akarku sendiri. Tetapi jarak puluhan batu di sekeliling kita pun dapat aku lihat dengan jelas” “Hai, apa salahnya aku mengingatkanmu, pucuk?” “Kau salah akar, harusnya kau ikut saja apa kataku. Kerana posisimu di bawah, dan kau tidak tahu apa-apa tentang dunia ini!”

“Aduhai…angkuh nian kau, pucuk! Kalaulah tak ada aku, mana mungkin kau dapat berdiri dan berada di atas sana!” “Sudahlah, kenapa kalian malah bertengkar, hah?!” Sang Daun menegahi suasana yang semakin panas. “Kerana dia mulai merasa angkuh, daun!” akar mengarahkan serabut akarnya kepada Sang Pucuk. “Apa urusanmu, akar?! Ikuti sajalah kataku, dan kau akan selamat” “Apakah kalian lupa, hah? Kalian itu saling memerlukan! Tidak akan ada kehidupan kalau tidak aku, kau, dan si akar itu. Sedarlah, saudaraku! kawanku!” Sang Daun kembali berkata-kata dengan perasaan yang sedih kerana pertelingkahan saudaranya sendiri.

Perdebatan demi perdebatan terus bergulir di antara keduanya. Sang Pucuk tidak merasa harus mengalah sedikit pun terhadap Sang Akar. Ia merasa bahawa ialah segalanya, dialah ketua kerana berada di tempat yang paling atas. Ia merasa ditakdirkan Tuhan untuk berada di atas dengan segala penglihatannya yang luas akan dunia ini. Ia merasa Tuhan telah memberikan kekuasaan mutlak kepadanya untuk berbuat sesuka hati. Sementara, Sang Akar merasa kecewa, Sang Pucuk telah mengambil langkah yang keliru dalam melaksanakan upaya menjaga kelangsungan hidup seluruh bagian pohon tersebut. Dan, Sang Daun yang berusaha meleraikan perdebatan itu pun tak berdaya menenangkan keduanya, meski ia tak pernah merasa lelah untuk mendamaikan perseteruan dua saudara satu tubuh itu.

Waktu yang digariskan mungkin saja telah tiba, kerana perdebatan yang berlarutan itu, Sang Akar bermalas-malasan untuk menyerap air dan zat-zat yang dibutuhkannya. Demikian juga Sang Daun, kerana kelelahan melerai perdebatan kedua saudaranya, ia lupa untuk mengolah makanan meskipun matahari terus bersinar sepanjang hari. Dan, Sang Pucuk rupanya semakin terlena. Ia tidak menyadari dua saudara dibawahnya sudah mengalami gangguan. Ia tetap berlenggok mengikuti arah angin dengan irama yang menghiburkan hatinya. Hingga tibalah saat di mana angin justeru berhembus dengan sangat perlahan.

Sang Pucuk terlena kerana desirnya, ia merasa ngantuk dan ia biarkan gerakannya yang tidak beraturan, dan ia pun mulai terpejam. Terlelap dalam tidur yang tidak disedarinya, dan angin datang menyerang. Tubuhnya terkulai. Sang Daun yang lapar tidak berdaya menahan tubuh Sang Pucuk yang datang tiba-tiba. Ia ikut terjatuh. Sementara di bawah, Sang Akar yang bermalas-malasan tidak lagi memiliki cengkaman yang kuat terhadap tanah di sekelilingnya. Sang Akar tidak berkuasa menahan tubuh kedua saudaranya yang terjatuh lebih dulu. Ia tercabut, bercerai-berai.

Beginilah akhirnya kisah pohon cantik,sebuah cerita yang menyedihkan.Para pencari kayu bakar yang baik hati bermuram durja, sementara para penebang liar bergelak tawa, “Tak perlu kita robohkan, kawan. Mereka roboh sendiri kerana permusuhan…!! ” “O, bahkan tak perlu angin yang kencang rupanya…….kasihan betul…..” demikianlah kata penebang pohon yang liar.

Dari sini saudara-saudaraku dapatkah kita mengambil sedikit iktibar dari cerita ini?

Marilah kita jauhi permusuhan yang meleraikan silaturrahim antara kita, janganlah berdendam kerana dendam itu tidak membawa kedamaian.. saling hormat menghormati dan bersatu padulah kita agar syiar Islam dapat diteruskan dan digemilangkan.. dan agar kita tetap menjadi orang yang beriman.. InsyaAllah..

‘Perumpamaan orang beriman yang berkasih sayang, dan saling rahmat merahmati dan di dalam kemesraan sesama mereka adalah seperti satu tubuh, apabila satu anggota mengadu sakit, maka seluruh tubuh akan turut merasainya.’

just cerita 2

Pada hari terahkir saya di sini,saya punya tugas terakhir yang perlu saya selesaikan sebelum saya melepaskan posisi saya dan semua itu melibatkan dia. Sebaik sahaja semua kerja yang terbengkalai itu  siap, saya mengambil peluang untuk berbual-bual dengan dia. Saya  bertanya perihal keluarga dan apa yang dia rasa bertugas di samping  saya untuk waktu yang amat sekejap itu. Alhamdulillah dia memberikan  respon yang baik dan dari situlah saya mula mengenali dengan lebih  dalam siapa sebenarnya pembantu saya ini. Namun, apa yang memang  boleh saya nampak dengan jelas, dia amat pemalu dan dia amat kekok  semasa bercakap dengan saya. Selepas itu barulah saya tahu, sayalah  lelaki pertama yang pernah berbual-bual dengan dia bukan atas urusan  rasmi sebegitu. Di situlah saya mula menyimpan perasaan, tapi tidak  pernah saya zahirkan sehinggalah saya berada jauh beribu batu  daripadanya.

Semasa saya berada di Jordan, saya menghubunginya kembali dan  menyatakan hasrat saya secara halus agar dia tidak terkejut. Alhamdulillah, dia menerima dengan baik dan hubungan kami berjalan  lancar selama empat bulan sebelum saya balik bercuti ke Malaysia.  Kadang-kadang saya terlalai dalam menjaga hubungan kami dan dialah  yang mengingatkan. Dialah yang meminta agar kami mengehadkan mesej- mesej kami agar tidak terlalu kerap. Semua itu menguatkan hubungan  kami dan bagi saya dialah teman hidup yang sempurna buat saya. Walau bagaimanapun, sewaktu saya pulang ke Malaysia bulan lepas,  ummi dapat menghidu perhubungan kami. Saya tahu ummi sangat…

nak tahu apa kesudahannya…tetapkan diri anda membaca blog ini…

suami yaang sangat2 disayangi…

Sekumpulan lelaki berada di bilik persalinan di salah sebuah kelab eklusif lagi mewah di pusat bandar, setelah keluar dari gym. Tiba-tiba kedengaran deringan Handphone di penjuru bilik tersebut. Seorang lelaki menjawap panggilan itu dan terjadilah perbualan seperti berikut . .

” “Hello?” “Abang, nie sayang nie,” “Emmm… ” “Abang masih ada di kelab lagi ke?”

“Iya.”

“Sayang sekarang nie berada di shopping complex dua block dari kelab abang tu. Sayang ada nampak kain sutera terbaru.. Cantik bang, Boleh ke sayang beli?”

“Berapa harganya?”

“Cuma $1500.00 aje”

“O.K. Belilah kalau memang awak dah suka sangat”

“Ahhh thanks bang dan tadi sebelum datang sini sayang ada singgah di Cycle & Carriage dan tengok Mercedes model terbaru 2003 . Sayang suka kat satu model tu. Dan sayang dah bincang dengan jurujualnya dan dia setuju nak bagi good price . . lagipun elok juga kita tukarkan dengan BMW yang kita beli tahun lepas tu ”

“Berapa harga yang dia bagi?” “Cuma $280,000 …”

“O.K tapi pastikan harga tu dah on the road.”

“Great! Before we hang up, ada satu perkara lagi…”

“Apa?”

“Abang jangan terkejut pulak, sayang dah semak akaun bank abang dan…. pagi tadi sayang singgah dipejabat ejen hartanah dan sayang dapat tau rumah yang kita tengok tahun lepas tu… sekarang nie untuk dijual. Abang ingat tak? Rumah yang ada swimming pool bentuk love tu, ada taman orkid kat belakang, berhadapan dengan pantai tu. . cantik kan bang. . ”

” Berapa harga yang mereka minta?”

” Cuma $740,000… O.K kan bang, dan sayang tengok dalam akaun kita boleh cover harga tu. . ..”

“Eloklah kalau macam tu, confirm cepat sebelum orang lain beli, tapi cuba dapatkan harga $700,000. OK?”

“OK, abang sayang, terima kasih bang, kita jumpa malam nanti ye!! I Love You !!!”

“Bye… I Love you too…”

Lelaki itu berhenti bercakap, menutup flap handphone . . .sambil mengangkat tangan yang memegang handphone tu dan bertanya pada yang ada dalam bilik tersebut :

“ADA SESIAPA TAHU KE HANDPHONE NIE SIAPA PUNYA? ”

hahahaha

just cerita….

Kisah ini datang dari lubuk hati saya sendiri, apa yang saya rasa
dan apa yang saya alami sendiri. Saya tidak bermaksud untuk mengeluh
apatah lagi mengingkari apa yang telah Allah s.w.t tetapkan kepada
saya dan kita semua orang yang beriman dengan-Nya. Kisah ini saya
khabarkan agar apa yang saya lalui tidak berlalu begitu saja tanpa
saya kongsi dan tanpa saya rekodkan sebagai panduan bagi diri saya
sendiri untuk hari-hari kemudian.

Saya sama seperti orang lain, punya keinginan untuk menyayangi dan
disayangi. Walau bagaimanapun, tidak mudah bagi saya untuk jatuh
hati pada seorang wanita. Saya tidak mencari seorang wanita untuk
dijadikan kekasih, tetapi saya mencari seorang teman pendamping
hidup saya hingga ke akhir hayat saya. Seorang yang boleh
mengingatkan saya kiranya saya terlupa, dan yang paling penting
wanita yang amat saya percayai untuk mendidik anak-anak saya kelak
dan generasi yang akan lahir daripada keluarga kami nanti. Untuk
itu, sejak di bangku sekolah lagi saya telah letakkan beberapa
syarat bagi seorang wanita untuk hadir dalam hidup saya, dan dialah
orangnya.

Dalam masa beberapa bulan saya belajar di sebuah pusat pengajian
tinggi di Petaling Jaya, banyak perkara yang telah saya pelajari.
Yang paling penting buat saya ialah, bagaimana saya mula mengenali
wanita-wanita dalam hidup saya kerana saya sejak dari sekolah rendah
belum pernah bergaul secara langsung dengan seorang wanita pun dan
saya amat peka terhadap larangan pergaulan antara lelaki dan wanita
kerana saya bersekolah di sebuah sekolah menengah agama lelaki
berasrama penuh. Lantaran itu, saya tidak pernah punya hati untuk
memberi cinta atau menerima cinta walaupun peluang itu hadir
beberapa kali.

Saya mula mengenali si dia apabila kami sama-sama terpilih untuk
mengendalikan sebuah organisasi penting di tempat kami belajar.
Ditakdirkan Allah s.w.t, dia menjadi pembantu saya. Dari situlah
perkenalan kami bermula.

Dia seperti yang telah saya ceritakan, bertudung labuh dan sentiasa
mengambil berat tentang auratnya terutama stokin kaki dan tangannya.
Itulah perkara pertama yang membuatkan saya tertarik padanya. Dia
amat berhati-hati dalam mengatur butir bicaranya, bersopan-santun
dalam mengatur langkahnya, wajah yang sentiasa berseri dengan iman
dan senyuman, dan tidak pernah ke mana-mana tanpa berteman. Suaranya
amat sukar kedengaran dalam mesyuarat kerana dia hanya bersuara
ketika suaranya diperlukan dan tidak sebelum itu. Saya melihat dia
sebagai seorang mukminah solehah yang amat menjaga peribadinya dan
maruah dirinya. Saya tidak pernah bercakap-cakap dengannya kecuali
dia punya teman di sisi dan atas urusan rasmi tanpa dipanjangkan-
panjangkan. Saya seorang yang amat kuat bersembang dan sentiasa
punya modal untuk berbual-bual seperti kata teman saya, tetapi
dengan dia saya menjadi amat pemalu dan amat menjaga. Bagi saya,
itulah wajah sebenar seorang wanita solehah. Dia mampu mengingatkan
orang lain dengan hanya menjadi dirinya, tanpa perlu berkata-kata
walau sepatah.

Pada hari terakhir saya di sana…..